Senin, 28 Februari 2011

Kehebatan Permainan Monopoli


Siapa yang tak kenal permainan Monopoli? Hampir semuanya mengetahui. Tapi, bagaimana jika permainan tersebut langsung dilakukan orangnya sebagai pion jalannya? Itulah yang dilakukan siswa SDN Babakan 3, Minggu pagi(13/02) di Gladiator dekat Kantin Plasma. Permainan ini diadakan oleh siswa SDN Babakan 3. Uniknya lagi, bukan sembarang monopoli yang digunakan, melainkan ecomonopoli karya Anisa yang berkuran lebih besar dari monopoli biasanya. “Saya menamakan permainan ini dengan nama Ecomonopoli, karena permainan monopoli yang isinya tentang lingkungan. Bagaimana caranya supaya anak-anak mengetahui apa itu Go Green dan lebih mencintai lingkungannya. Selama ini kan anak-anak tidak mengerti apa itu Go Green dan mereka tidak tahu harus melakukan apa untuk lingkungannya”, tutur Anisa Pendiri Permainan Ecomonopoli.

 Permainan ini pun membuat anak-anak lebih aktif dan kreatif. Hal ini dapat dilihat ketika ada sebuah pertanyaan di dalam Ecomonopoli tentang bagaimana caranya agar lingkungan kita tetap bersih dan juga mengajak anak-anak agar lebih peduli terhadap lingkungannya.
Ecomonopoli ini pernah mengikuti beberapa perlombaan di Danamon, Asoka, dan Buyer bahkan sebuah permainan tersebut pernah  mendapat undangan untuk pergi ke Jerman. Tujuan dibuatnya ecomonopoli adalah agar anak-anak lebih konsen terhadap lingkungan khusunya pada perubahan perilaku mereka. “Kita mengajak anak SD untuk bermain permainan ini karena pendidikan lingkungan yang paling tepat dimulai dari sejak SD”, tutur Wendo salah seorang panitia permainan Ecomonopoli. Peserta yang mengikuti permainan tersebut sangat antusias dan serius, terbukti saat mereka harus berjalan diatas permainan yang ukurannya sangat besar. “Ikut main Ecomonopoli itu seru kak. Aku jadi tahu Go Green itu apa dan aku harus berbuat apa untuk lingkungan sekitar”, tutur salah seorang siswa SDN Babakan 3 KK/Rin.

Sabtu, 26 Februari 2011

Pajak Telah Memakan Korban??


Pajak bukanlah hal yang aneh di lingkungan masyarakat. Setiap warga negara Indonesia wajib membayar pajak penghasilan. Pajak tersebut disesuaikan tergantung berapa penghasilan yang mereka dapatkan. Hal ini telah tercantum dalam peraturan pemerintah dan perundang-undangan Republik Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini pajak telah memakan korban. Bukan hanya restoran mewah saja yang harus membayar pajak, warga yang memiliki warung tegal atau biasa disebut warteg juga harus membayar pajak penghasilan. Tidak peduli seberapa besar atau seberapa kecil ukuran warung tegal tersebut, seperti halnya warteg di lingkungan Babakan Tengah Dramaga, mereka harus membayar pajak penghasilan Rp400.000,00 pertahun. Akibatnya warga yang berpenghasilan pas-pasan semakin merasa tidak sanggup untuk membayar pajak tersebut.
“Iya Neng, sekarang mah pajak makin mahal. Yang kecil makin terpuruk yang besar makin merasa kaya. Seharusnya para koruptorlah yang terkena pajak paling mahal”, ujar Teh Tina pemilik salah satu warung tegal di Babakan Lio, Dramaga.

 Begitupula yang dirasakan oleh para mahasiswa IPB, mereka merasa iba ketika tahu bahwa warung tegal juga harus terkena pajak. Mereka merasa seharusnya yang terkena pajak paling besar adalah para koruptor bukan rakyat kecil yang penghasilannya serba pas-pasan.
“Kalau secara normatif kurang pantas warteg terkena pajak, walaupun pajak adalah kewajiban setiap warga negara. Ya paling tidak untuk ukuran warteg yang ukuran kecil, pajaknya dimurahkanlah. Disesuaikan dengan penghasilan yang mereka dapatkan”, ujar Ilham Tawakal seorang mahasiswa KPM angkatan 45 KK/Rin.
           

Demi Anak Rela Berkorban


Setiap orang pasti memiliki hasrat untuk menjadi orang yang sukses, namun dalam mencapai suatu kesuksesan dibutuhkan perjuangan. Seperti yang dialami oleh Adi. Ia adalah seorang penjual susu sapi keliling dan makanan. Ia berjualan makanan dan susu sapi keliling demi menyekolahkan anak-anaknya serta menghidupi keluarganya.
“ Demi anak dan istri saya rela tidak makan, Teh” tutur  Adi yang memiliki 8 orang anak. Ia mulai bekerja dari pukul 03.00 hingga pukul 16.00. Untuk mendapatkan makanan tersebut, Adi harus pergi ke Pasar Merdeka yang letaknya sangat jauh dari rumah Adi yang terletak di daerah Adi Sanggoro, sedangkan untuk mendapatkan susu sapi, sekitar pukul 13.00 ia mengambil ke Fapet.
“ Setiap hari saya harus berjualan susu sapi dan makanan di sekitar IPB, Teh. Ini saya lakukan agar saya bisa menghidupi istri dan ketiga anak saya yang masih sekolah. Saya terus berjuang agar anak-anak saya bisa terus sekolah hingga mendapat gelar sarjana” ujar Adi. Pekerjaan ini ia lakukan sejak tahun 2008.
Untungnya sang istri juga bekerja, ia bekerja sebagai guru di Madrasah, walaupun pekerjaan tersebut tidak tetap.
Menurut Alex seorang mahasiswa IPB, ia terharu melihat perjuangan Pak Adi yang sangat gigih. Pak Adi rela kepanasan dan kehujanan demi untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya yang masih sekolah.
Inilah bukti perjuangan yang luar biasa, perjuangan seorang bapak untuk menghidupi kebutuhan istri dan ketiga anaknya yang masih sekolah. Perjuangan seperti inilah yang patut kita acungi jempol dan patut kita contoh. KK/Rien

Fema 46 Peduli Merapi


Sabtu (06/11/2010) FEMA 46 mengadakan suatu kegiatan bakti sosial yang dinamakan PENGGALANGAN DANA MERAPI FEMA 46. Awalnya kegiatan ini bermula dari kumpul para ketua angkatan 46 yang juga dihadiri oleh ketua BEM TPB Ahmad Fahrudin. Mereka memiliki ide untuk mengadakan penggalangan dana bagi korban bencana Gunung Merapi pada hari Jumat hingga Minggu 08/11/2010, tetapi Teguh ketua angkatan 46 mengusulkan bahwa penggalangan dana dari FEMA 46 akan dilaksanakannya pada hari Sabtu hingga Minggu, hal ini dikarenakan agar banyak sumberdaya manusia FEMA 46 yang dapat membantu dalam kegiatan penggalangan dana tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk terjun langsung ke jalan-jalan dengan menggunakan sumberdaya manusia dari FEMA 46. “Untuk pemilihan lokasi penggalangan dana, kami sepakat mengambil daerah yang dilalui oleh banyak orang. Hari Sabtu pagi, kami menggalang dana di sekitar IPB, Sabtu sore di wilayah Jalan Baru dekat Tugu Narkoba, Sabtu malam di wilayah Tugu Kujang, Baranangsiang, dan Minggu pagi di sekitar IPB kembali,” tutur Teguh Jati Koordinator Kegiatan Penggalangan Dana Merapi FEMA 46.          

 Hasil dari penggalangan dana tersebut, kami berikan kepada mahasiswa yang akan pergi langsung ke daerah Sleman, Yogyakarta. Uang tersebut akan dibelikan sesuai dengan kebutuhan para korban yang dibutuhkan, misalnya: kekurangan alat tidur, alat mandi, makanan, dan obat-obatan. Kegiatan tersebut disambut hangat oleh para pemakai jalan dan polisi. Hal ini dapat terlihat dari mereka memberikan sumbangan yang tidak sedikit jumlahnya untuk para korban bencana Gunung Merapi. “Ketika kita berjuang untuk membantu sekitar kita, usahakan dilakukan dengan ikhlas. Untuk teman-teman yang belum sempat berpartisipasi dalam kegiatan penggalangan dana, mari kita bantu dengan doa agar bencana Gunung Merapi cepat selesai” tutur Teguh Jati Koordinator Kegiatan Penggalangan Dana Merapi FEMA 46 sembari mengakhiri perkataannya .KK/Rien